Bank Dunia Setujui RISET-Pro Diperpanjang Satu Tahun

0
(0)

 84 total views,  1 views today

Bank Dunia mendukung RISET-Pro Kemenristek/BRIN diperpanjang hingga akhir tahun 2021. Dana pinjaman yang dialokasikan Bank Dunia untuk menjalankan program RISET-Pro di tahun depan sebesar 5,6 Juta Dollar Amerika atau setara dengan Rp 79,6 miliar.

Ratna Kesuma, Ketua Tim Tugas dan Senior Education Specialist Bank Dunia di Indonesia, menyampaikan gagasan dan rekomendasi  dari Komponen 1 dan 2 RISET-Pro harus dapat diwujudkan. “Maksimalkan anggaran itu untuk merealisasikan gagasan-gagasan yang telah direkomendasikan, jadi tidak berhenti di 2020,” kata Ratna dalam Rapat Teknis Komponen 1 dan 2 RISET-Pro 2020, yang diselenggarakan secara daring, Kamis, 26 November.

Dalam rapat itu masing-masing konsultan dari Komponen 1 dan 2 memaparkan capaiannya dari awal tahun 2020 hingga November. Diantaranya Prof. Eriyatno, Konsultan Sub-Komponen 1.b.3.2. yang menyampaikan bahwa RISET-Pro telah menghasilkan dua naskah akademis yang membahas tentang sumber pendanaan model ventura. Selanjutnya, telah dihasilkan juga model kolaborasi antara LPNK, Kemenristek/BRIN, dengan  pihak industri.  “Selain itu kami juga sedang mengadakan program sertifikasi Tenaga Profesional Alih Teknologi (Registered Technology Transfer Professional, RTTP) untuk 15 peserta dari sejumlah LPNK,” ucap Eriyatno.

Komponen 1 juga membuat skema kerjasama penelitian pengembangan dengan industri dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). “Kami juga membuat naskah akademis usulan kebijakan program kolaborasi riset antara Puslitbang dan industri yang disusun berdasarkan praktik yang sebenarnya,” terang Eriyatno.

Konsultan Komponen 1 RISET-Pro lainnya (Sub-Komponen 1.b.3.3.), Gopa Kusworo, menjelaskan tantangan dalam komersialisasi teknologi. Tantangannya tersebut diantaranya belum terlihat dampak hilirisasi, alih teknologi  dan komersialisasi hasil Litbangjirap yang diserap masyarakat. Hasil kegiatan riset dan pengembangan (risbang) maupun aset LPNK belum termanfaatkan secara optimum serta jaringan lembaga riset ke industri masih lemah. Industri yang dipilih sebagai mitra masih dalam bentuk pemberian fasilitas atau insentif.

Gopa merekomendasikan untuk komersialisasi teknologi diantaranya peningkatan kemampuan Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT). Dalam hal komersialisasi akan lebih cepat ketika program komersialisasi melalui kemitraan dengan industri.

Dalam hal ini diperlukan sosialisasiyang lebih masif tentang langkah-langkah komersialisasi teknologi kepada masyarakat, industri, umum, pemerintah pusat, dan pemerintah daerah. ”Diantaranya adalah dengan membuat video-video singkat berisi hasil penelitian, pengembangan, dan pengkajian (litbangjirap) iptek, serta fungsi dan manfaat komersialisasi dengan bahasa yang mudah dimengerti,” tutur Gopa.

Untuk penyampaian paparan kemajuan Komponen 2 RISET-Pro dibawakan oleh Advisor Konsultan Komponen 2 RISET-Pro, Derry Pantjadarma. Derry menerangkan Komponen 2 telah mengembangkan Sistem Informasi Eksekutif Monitoring Evaluasi Riset dan Pengembangan (MonevRisbang). Sebagai aplikasi berbasis website, sistem ini akan menyediakan sumber informasi mengenai kegiatan penelitian yang ada di Indonesia. MonevRisbang juga akan bekerja sama dengan LPNK terkait hasil riset yang dihasilkan. Saat ini aplikasi sistem pencarian MonevRisbang telah dipakai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) sebagai bahan evaluasi (desk evaluation) proposal riset yang akan didanai.

Derry mengatakan MonevRisbang juga akan dapat diakses selain oleh peneliti juga dapat dibuka oleh masyarakat umum. “MonevRisbang selain dibuka oleh masyarakat umum diharapkan juga dapat dibuka oleh pencari data untuk riset dari mancanegara,” masukan dari Ratna.

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *