RISET-Pro Keluarkan Rp 1,5 Miliar untuk Sertifikasi Tenaga Profesional Alih Teknologi

5
(2)

 104 total views,  1 views today

Selama dua pekan Komponen 1 RISET-Pro Kemenristek/BRIN telah menggelar pelatihan dan sertifikasi Registered Technology Transfer Professional (RTTP). Dana yang dikeluarkan untuk kegiatan yang dilaksanakan secara daring ini sekitar Rp 1,5 miliar.

Masing-masing peserta pelatihan yang berjumlah 15 orang ini dikenakan biaya mencapai Rp 100 juta. “Sumber pendanaan untuk sertifikasi ini berasal dari pinjaman Bank Dunia,” jelas Jangkung Raharjo, Konsultan Komponen 1 RISET-Pro di Hotel Le Eminence, Cianjur, Senin, 23 November.

15 orang peserta yang ikut kegiatan ini berasal perwakilan dari LIPI, BPPT, LAPAN, BATAN dan Kemenristek/BRIN. “Kegiatan ini sebenarnya sudah diagendakan sejak tahun 2018 namun tertunda, hingga akhirnya akhir tahun ini dapat diselenggarakan,” ungkap Jangkung.

Menurut Jangkung, kegiatan ini digelar karena di Indonesia belum ada ahli alih teknologi yang tersertifikasi internasional dari Alliance Technology Transfer Professional (ATTP). Pelatihan ini bekerjasama dengan Oxford’s Global Innovation Consultancy (Oxentia) asal Inggris.

Ada empat modul yang diajarkan oleh para konsultan dari Oxentia. Keempat modul itu diantaranya, membuat kesepakatan atau Deal Making antara peneliti dengan industri membuat paten dan hak kekayaan intelektual (Patent and Intellectual Property) dan strategi pasar (market strategy).

Para peserta pelatihan nantinya ditargetkan dapat mengembangkan riset bersama dunia industri menuju ranah komersial atau terapan. Para tenaga ahli alih teknologi juga bertugas dalam menilai manfaat sebuah penelitian di pasaran agar dapat dipromosikan kepada industri.

Theresia Ningsi Astuti, peserta pelatihan asal LIPI mengaku termotivasi dapat kesempatan mengikuti RTTP. “Selain pelatihan ini yang terpenting adalah apa yang harus kita lakukan setelah pelatihan ini harus bermanfaat untuk banyak orang,” kata Theresia.

Jangkung juga menaruh harap  para peserta usai pelatihan dapat membuat Asosiasi Transfer Teknologi Indonesia (ATTI). “Tahun depan diharapkan dapat melatih 15 orang lagi sehingga Indonesia memiliki  30 RTTP yang tersertifikasi,” harap Jangkung.

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *